Saturday, February 25, 2012

Warisan Natal


Aku tak mau membuka mataku. Aku hanya ingin menikmati berbagai aroma khas yang menyapa hidungku. Aroma kayu jati tua dipan yang kutiduri. Aroma harum bunga yang melekat pada sprei, sarung bantal, dan selimut. Walaupun mungkin sabun cuci yang dipakai telah berganti-ganti tapi bagiku aromanya tetap sama sejak dulu. Ada juga aroma debu terselip di kisi-kisi jendela dan berbagai sudut ruangan yang tak terjangkau ganggang sapu. Semua aroma itu melebur menjadi satu membawaku secara mistis pada kenangan masa kecil hingga remaja yang kuhabiskan di kamar ini.
Bila aku membuka mataku aku tahu bahwa ruangan ini sebenarnya masih tetap sama seperti saat kutinggalkan selepas aku SMA dulu. Bahkan kain gordennya pun adalah kain pilihanku. Kain yang kubeli bersama ibu di Pasar Klewer. Tak ada perabot yang diganti bahkan digeser satu sentimeter pun dari tempatnya dulu. Hanya meja belajarku yang sekarang tampak kosong karena semua buku telah disimpan di gudang atau bahkan telah dijual Bapak di toko buku loakan belakang Taman Sriwedari. Juga tak lagi kudapati poster-poster artis dan boyband pujaanku semasa remajaku dulu. Kalau semua itu aku yang melepasnya sendiri saat kuliah. Betapa gelinya aku dulu memikirkan kegilaanku ada aris-artis tersebut.
Hidupku yang telah banyak berubah. Itulah yang membuatku malas membuka mata. Memanjakan anganku kembali pada masa kecil dan remaja saat kehidupan serasa tak disesakkan dengan berbagai kenyataan yang hampir tak mampu aku tanggung. Dan lagi bila kubuka mataku, aku tak mendapati lagi ibu di rumah ini. Padahal ibu yang kurasa paling kubutuhkan untuk berbagi kesesakan saat ini.
Suara pintu kamar yang dibuka dan kecupan kecil yang mendarat di kening memaksaku untuk membuka mata.
“Mama masih capek ya?” tanya sang Pangeran Kecil. Dengan nada suara yang terdengar bijak dan penuh perhatian ini pasti orang tak menyangka kalau umurnya baru empat tahun.
“Hmm, sedikit,” jawabku mencoba tersenyum. Belakangan ini aku sering berpura-pura tersenyum bahagia di depannya. Senyuman yang menyiksa hati nuraniku.
“Fide mau diajak Om Soni ke toko buat beli hiasan Natal. Boleh ya, Ma?”
 “Sudah minum susu?”
“Tinggal sedikit”
“Habiskan susunya dulu, baru boleh pergi sama Om Soni.”
“Oke, deh. Terima kasih, Mama. Muah!”
Sebuah kecupan kembali mendarat di pipiku. Secepat kilat dia turun dari tempat tidur dan berlalu ke balik pintu. Aku berusaha kembali ke dunia angan yang sempat kutinggalkan. Tapi aku tak mampu lagi. Saat aku memejamkan mata bukan kenangan masa kecilku yang muncul tapi kembali keping-keping kisah pahit. Segera aku bangkit, keluar dari kamar dan membersihkan diri di kamar mandi. Berharap kesegaran tubuhku dapat sedikit menyegarkan pikiranku.
Kudapati bapak tengah membuka koran pagi saat aku menuju meja makan. Dua tahun yang lalu saat ibu masih hidup, suasana pagi di rumah tak sehening ini. Keheningan pagi ini masih terasa asing bagiku.
“Tadi Fide diajak Soni membeli hiasan natal.”
“Iya, tadi dia sudah pamit denganku.”
 “Yonan tidak pulang ke Solo Natal kali ini? Atau menyusul nanti?” Pertanyaan ini akhirnya meluncur juga dari mulut bapak. Aku tahu bapak telah menyimpan pertanyaan ini sejak menjemputku di bandara tadi malam. Tapi disimpannya karena mungin melihat wajahku yang begitu lelah dan murung semalam.
“Tidak.” Aku menjawab singkat dan berlalu menuju dapur untuk membuat secangkir teh buat diriku. Aku berharap bapak tak bertanya lagi tentang Yonan. Yonan pernah dua kali tidak bisa menemani kepulanganku ke Solo saat Natal karena bekerja. Jadi, kuharap ketidakhadirannya tahun ini tidak akan terlihat janggal.
Saat aku kembali ke meja makan dengan secangkir teh di tangan, aku tahu pembicaraan menyesakkan ini akan berlanjut. Aku melihat koran bapak sudah terlipat rapi, tangan bapak bersedekap di meja makan dengan pandangan mata menerawang menembus jendela ke pekarangan belakang rumah. Aku hafal, ini gaya bapak bila bersiap untuk membicarakan sesuatu yang penting. Aku sendiri tidak yakin akan siap untuk menceritakannya.
“Ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Yonan?” Bapak menatapku dengan tatapan yang lembut, tapi terasa menusuk. Memaksaku menundukkan kepala menghindari tatapan matanya yang seakan berusaha memindai isi hatiku.
“Bapak tahu, Bapak bukan ibumu. Bapak tidak akan pernah bisa menggantikan ibumu. Tapi Bapak ingin kamu tahu bahwa Bapak pun ada bila kamu ingin berbagi.” Setiap patah kata-kata bapak seperti godam yang menghantam benteng pertahananku. Kebisuanku runtuh diawali dengan isakan-isakan tangis dari mulut mulutku.
Kisah pahit itu akhirnya bergulir dari mulutku dengan terpatah-patah. Dimulai dari pengakuan Yonan sebulan lalu. Pengakuan yang tak pernah bisa kupercaya keluar dari mulut suami yang kucintai dan kupercayai selama ini.
Isakanku berubah menjadi raungan tangis yang memenuhi setiap sudut ruang makan itu saat bapak menggenggam tanganku. Aku bersyukur tak ada siapa pun di rumah ini yang dapat mendengar raunganku saat ini.
Entah berapa lama aku larut dalam tangis. Saat raunganku mereda menjadi isakan lirih, bapak membuka percakapan kami kembali.
“Ratih, aku sedikit banyak tahu perasaanmu. Kesakitanmu karena pengkhinatan ini, aku pun pernah merasakannya.”
“Maksud Bapak?”
“Dunia seperti mau runtuh saat aku mendengar pengakuannya dari mulut ibumu.”
“Maksud Bapak, Ibu….?”
“Ya, ibumu pernah mengakui sebuah perselingkuhan.”
Aku terdiam tak percaya. Selama ini aku melihat sosok ibu sebagai wanita yang sempurna. Ibu adalah wanita yang bersahaja, pendiam, tak suka bergosip dan terlihat begitu rukun dengan bapak. Selama ini aku mengingat ibu sebagai wanita pemalu, selalu menjaga jarak dengan pria lain selain bapak
“Kamu pasti sulit mempercayainya, kan? Tak apa….”
“Tapi, Ibu terlihat begitu sempurna di mataku.”
“Ibumu memang mengakhiri hidupnya sebagai wanita sempurna bagi kita semua, walau dia pernah mengalami kejatuhan  dalam perjalanan hidupnya.”
“Bapak, sebenarnya apa yang dulu pernah terjadi?”
“Waktu itu baru saja masuk SD, dan dua adikmu masih balita. Tidak semuanya salah ibu. Bapak juga bersalah dalam hal ini.”
“Bagaimana bisa terjadi?”
“Kamu ingat kan, dulu Bapak sering dikirim dinas keluar Jawa berminggu-minggu. Meninggalkan ibumu dalam kesepian dengan kerepotan mengurus tiga anak-anaknya.”
“Iya, aku ingat. Bapak hanya pulang beberapa hari dalam sebulan.”
“Ibumu sebenarnya juga bukan perempuan rumahan tradisional. Dia seorang sarjana, predikat yang sangat jarang dimiliki wanita di masa itu. Ibumu punya ambisi yang besar untuk berkarya di luar rumah. Tapi dia mengambil pilihan untuk mengurus kalian bertiga di rumah.”
Aku kembali mengenang ibu. Dia wanita yang cerdas di mataku. Dia selalu tahu kapan dan apa yang harus dikatakannya. Itulah mengapa aku selalu nyaman membicarakan segala sesuatu dengannya.
“Apakah ibu kesepian sehingga….” Aku menggantung kalimatku. Tak kuasa membayangkan apa yang pernah terjadi di masa lampau.
“Bisa dikatakan begitu. Saat Bapak tak berada di sisinya, dia menemukan pria lain yang menemaninya berdiskusi. Dia merasakan gairahnya kembali. Ditambah lagi banyaknya desas-desus yang mengatakan bahwa pegawai yang bertugas di luar Jawa pasti punya banyak simpanan di sana. Berita seperti itu menambah kegalauannya. Di saat itulah dia jatuh ke pelukan pria tersebut.”
“Kenapa aku sama sekali tak tahu saat itu. Siapa pria itu, Pak? Apakah Ratih mengenalnya?”
“Tak perlu kamu tahu. Itu masa lalu….”
“Bapak pasti sangat hancur.”
“Benar. Selama ini banyak orang yang mengira pria seperti Bapaklah yang suka berselingkuh karena sering berdinas di luar Jawa. Ternyata…. Ah, berat sekali saat itu. Sangat ingin rasanya menceraikan ibumu sesegera mungkin saat itu.”
“Lalu, bagaimana Bapak bisa menerima ibu kembali saat itu?”
“Bapak tidak bisa langsung memaafkan dan menerima ibumu. Bapak sempat lari ke Yogya, pulang ke rumah eyangmu untuk menyendiri. Saat itu Natal juga. Ketika Bapak mengikuti kebaktian Natal, Bapak mendengar kotbah tentang kasih. Hati Bapak tersentuh. Bapak punya tekad untuk berusaha mengasihi ibumu dengan memaafkannya dan memberinya kesempatan kembali.”
“Semudah itukah?”
“Butuh proses yang lama. Kadang perasaan sakit itu muncul lagi tapi Bapak dan ibumu terus berdoa. Sampai detik ini Bapak tidak pernah menyesal karena telah memaafkan dan menerima ibumu kembali.”
“Tak pernah menyesal?”
“Iya. Bila dulu Bapak mengakhiri pernikahan kami yang baru tujuh tahun, Bapak tidak akan menikmati 28 tahun lagi kebahagiaan pernikahan kami. Setelah kejadian itu, ibumu bertobat dan menjadi istri yang lebih baik. Badai itu juga makin mengokohkan pernikahan kami. Tahukah kamu bila pohon yang kuat adalah pohon yang tahan menahan terpaan angin kencang? Bila aku mencari istri baru lagi, belum tentu aku mendapat yang lebih baik.”
Aku cuma terdiam. Meresapi semua kata-kata Bapak mengalir ke pikiranku dan berakhir di hatiku.
“Dan yang terpenting, kami dapat memberikan suatu warisan berharga bagi kalian melalui kelangsungan pernikahan kami.”
“Warisan apa, Pak?”
“Kami dapat mewariskan nilai tentang kelanggengan cinta kasih pernikahan, mewariskan pelajaran berharga bagaimana menghadapi badai dalam pernikahan.”
“Bapak memintaku untuk bisa memaafkan dan menerima Yonan kembali?”
“Bapak tidak bisa mendikte hidupmu. Kamu sendiri yang harus bisa membuat keputusan. Bapak hanya bisa mewariskan kisah pernikahanku dengan ibumu padamu.”
“Berat, Pak.”
Menutup wajah dengan telapak tanganku. Aku berusaha mengusir wajah Yonan dari hadapanku. Wajah Yonan yang berurai air mata saat berusaha memohon maafku.
“Aku tahu beratnya, Ratih. Di masa dulu, suami yang berselingkuh dianggap hal yang wajar dan harus dimaklumi seorang istri. Sedangkan seorang istri yang berselingkuh, seakan penghinaan besar bagi martabat pria. Tapi aku berusaha tidak melihat itu. Aku melihat ibumu sebagai istri, dengan siapa aku mengikat janji pernikahan. Hanya maut yang boleh memisahkan kami. Maut, dan bukan kemarahan semata.”
“Apakah Yonan dapat sungguh-sungguh berubah menjadi setia nantinya?”
“Ratih, Bapak bukan peramal yang tahu masa depan. Tapi kalau boleh Bapak mengingatkan, bukankah Tuhan juga sering memberi kesempatan kedua pada umat-Nya yang sungguh-sungguh bertobat dan memulai hidup baru yang lebih baik. Jadi, mengapa kamu tidak mencoba memberi kesempatan pada Yonan?”
Aku hanya membisu. Pikiranku berusaha merangkai setiap keping kisah masa lalu orang tuaku dan juga kisah pahitku sendiri. Bapak pun membisu di sampingku. Berdua kami menyelami keheningan rumah itu, mengarungi setiap kenangan masa lalu kami masing-masing.
Deru suara sepeda motor yang memasuki halaman rumah membuyarkan keheningan kami. Beberapa detik kemudian sosok lincah Fide memasuki rumah itu. Dengan riang Fide bercerita pengalamannya berbelanja hiasan-hiasan Natal dengan Om Soni.
Beberapa menit kemudian aku telah menemani Fide menghias pohon Natal di ruang tamu. Sementara bapak sibuk mengurusi burung-burung peliharaannya dengan Soni di belakang rumah.
Pohon Natal dengan tinggi sekitar satu meter itu diletakkan di atas sebuah meja mungil agar terlihat lebih tinggi. Fide pun terpaksa harus naik bangku kecil agar dapat memasang hiasan pada pohon itu.
“Ma, di bawah pohon Natal ini ditaruh apa?”
“Biasanya sih tidak ditaruh apa-apa.”
“Kalau ditaruh kado-kadoan bisa, Ma? Kemarin pohon Natal di sekolah Fide dihias begitu. Kadonya dari kardus kosong yang dibungkus kertas kado. Fide bisa buat kok, Ma. Kan di sekolah sudah diajarin Bu Guru.”
Aku terdiam sesaat. Sebuah ide melintas di pikiranku. Aku kemudian berlalu ke ruang keluarga. Kuambil beberapa foto keluarga tua yang berjajar di atas meja pajangan. Segera kubawa tiga foto ke ruang tamu dan kupasang di bawah pohon Natal itu.
“Kalau kita pasang ini bagaimana, Fide?”
“Lho, itu kan foto keluarga Eyang. Kok nggak pasang kado-kado saja, Ma?”
“Keluarga, kan, kado terindah dari Tuhan buat kita.”
Fide mengernyit sesaat. Pasti cukup sulit bagi anak lima tahun untuk memahami kata-kataku. Tapi kemudian dia mengangguk-angguk. Entah mengerti atau pura-pura mengerti.
“Oke deh, Ma. Pasang foto saja. Keren juga. Nanti kutunjukkin teman-temanku kalau sudah masuk sekolah nanti.”
“Sip!”
Kami berdua pun tos bersama. Sekilas kulirik senyum ibu pada salah satu foto keluarga. Foto ketika aku diwisuda. Sekelam apa pun masa lalunya, ibu tetaplah wanita yang hebat di mataku. Dia telah menunjukkan pengabdiannya pada bapak dan keluarga ini walaupun pernah melakukan kesalahan fatal di masa lalu. Dia telah membayar kesalahannya dengan melukiskan kebahagiaan di hati kami semua anak-anaknya.
Perlahan aku merogoh ponsel di kantong celanaku. Kuketik sebuah sms singkat.
“Kapan kamu menyusul ke Solo untuk merayakan Natal?”
Semenit kemudian sebuah balasan kuterima.
“Beneran? Aku boleh ke sana?”
Lama aku tidak membalas sms itu. Mataku menatap lekat foto bapak dan ibu di bawah pohon Natal itu. Aku pun ingin mewariskan sebuah kisah pernikahan yang bahagia pada Fide. Aku juga ingin dapat menceritakan kasih sejati dalam pernikahanku pada Fide nantinya. Kasih yang mau mengampuni dan menerima di dalam kelemahan.
“Mari kita mencoba lagi….” Kubalas pesannya dengan singkat. Tiba-tiba Fide sudah aad di dekatku, ikut memelototi ponselku.
 “Papa ya?”
“Iya. Papa akan segera menyusul ke sini.”
“Papa nggak jadi sibuk kerja ya?”
“Iya. kamu tunggu saja ya.”
“Hore!!! Bisa Natalan sama Papa!”
Teriak girang Fide membahana ke seisi rumah. Meluruhkan segala kemuraman yang sempat singgah di rumah ini.

Dimuat Majalah "SEKAR" edisi 72, 14-28 Desember 2011

Thursday, January 12, 2012

Dear Mama #8


“Dear Mama #8” berisi puluhan surat cinta dari para kontributor penulis di seluruh Indonesia. Ungkapan cinta buat ibunda yang sangat menyentuh hati. Ada rasa kebanggaan, terima kasih, dan juga penyesalan.

“Dear Mama” adalah sebuah proyek buku keroyokan. Terdiri dari 10 seri buku yang keseluruhan royaltinya disumbangkan untuk Yayasan Kanker Payudara. 

Tulisan saya berjudul “Untuk Setiap Kayuhan Sepedamu” ada di buku seri ke-8. Mengungkapkan rasa terima kasih mendalam saya untuk kerja keras ibu yang membesarkan empat anaknya dalam keterbatasan. Secara khusus saya mengenang ibu yang setiap hari mengayuh sepeda dari satu desa ke desa lain untuk memandikan bayi yang belum lepas tali pusar. Berusaha mencari tambahan penghasilan sebagai single fighter di keluarga kami.

Buku ini dapat dipesan di nulis buku.com atau langsung klik di sini, <a href="http://www.nulisbuku.com/books/view/dear-mama-8">Dear Mama #8<a>

Judul buku: Dear Mama #8
Penerbit     : nulisbuku
Halaman    : 167 halaman
Harga         : Rp 40.000,

Wednesday, January 11, 2012

Pamit

Gelap.

Aku kembali terbawa ke malam gelap itu. Ketika aku terbangun karena telingaku menangkap suara isak tertahan. Aku masih menutup mata. Pura-pura tidur di balik selimut hangatku yang bergambar  tokoh kartun Donal Bebek. Entah kenapa aku merasakan suatu gelombang kesedihan yang mendera dan suatu keadaan tidak aman. Aku memilih tetap tidur, mencoba menutup mata terhadap keadaan sekitar.

Lagipula, aku tak perlu membuka mata untuk tahu isak siapa itu. Isak ibu. Suaranya sangat jelas kukenali. Ibu jarang menangis di depanku tapi hatiku selalu merana setiap mendengar isaknya. Kali ini isaknya lain, terdengar begitu pilu. Dia sepertinya berusaha keras meredam suara tangisnya, menyisakan isakan-isakan yang keluar dari sela bibir.

Ibu sama sekali tak menyentuhku, berarti memang dia berusaha tidak membangunkanku. Benar pilihanku untuk tetap pura-pura tidur. Begini mungkin lebih baik bagi ibu. Ibu tak pernah ingin aku melihatnya bersedih. Mungkin tidurku akan membuat kesedihan ibu lekas berlalu.

Aku mendengar suara pintu dibuka. Terdengar desah nafas bapak. Suasana makin terasa tidak enak. Ada kesedihan dan kesesakan yang pekat kurasakan dari desah nafas bapak.

“Sudah, cukup…,” terdengar suara bapak. Aku merasa itu bukan nada suara yang berusaha menenangkan ibu. Ada perintah mendesak dalam suara itu.

“Katakan padanya, bahwa aku akan selalu menyayanginya.” Ibu berusaha bicara di sela deru isak tangisnya. Aku merasa kata-kata itu ditujukan untukku. Hampir aku membuka mata dan tidak tahan untuk memeluk ibu.

“Kamu sudah memilih. Jalani pilihanmu tanpa ragu, kamu tahu konsekuensinya.” Aku takut mendengar suara bapak. Nada suara seperti ini yang sering membuatku menunduk dan tak mampu menatap matanya. Nada suara yang dikeluarkan saat aku berbuat kenakalan di luar batas. Kenakalan apa yang telah diperbuat ibu?

Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari ibu.  Aku hanya mendengar suara langkah kaki ibu yang pelan-pelan meninggalkan ruangan ini. Pintu ditutup. Selanjutnya aku mendengar deru mobil di luar rumah. Aku tidak tahu itu mobil siapa. Kami tidak punya mobil, hanya motor bebek tua bapak berwarna merah. Motor bebek yang setia mengantarnya mengajar di sebuah SMP swasta.

Belakangan aku tahu bahwa deru mobil itu adalah taksi yang mengantar kepergian ibu dari rumah. Belakangan aku juga sangat menyesal mengapa tetap pura-pura tertidur saat itu. Andai saja aku bangun dan memeluk ibu. Aku akan sunguh-sungguh berusaha merasakan hangat tubuhnya, wangi aroma sampo di rambut panjangnya, lembut pipinya yang menempel di wajahku. Bertahun-tahun kemudian, aku menjadi sangat merindukan semua itu.

Tak ada yang menceritakan padaku apa yang sesungguhnya terjadi malam itu. Pada bapak sajalah aku terus bertanya. Bapak juga terus menjawab bahwa ibu bekerja di luar negeri. Menjadi TKW kah? Bapak hanya berdehem. Sejak itu aku terus mengikuti berita TKW di luar negeri. Kalau-kalau aku mendapat berita tentang ibu. Ibu tak pernah mengirimiku surat. Padahal ibu tahu saat itu aku telah lancar membaca. Ibu sendiri yang mengajariku membaca.

Aku menjadi sering mengikuti berita tentang TKW di luar negeri. Kesedihanku sering memuncak melihat berita TKW yang disiksa dan dihukum di luar negeri. Bapak sering menghiburku. Katanya, bukan di negara itu ibu berada. Lalu, di mana? Bapak hanya mengangkat bahu.

Aku berhenti bertanya-tanya lagi tentang ibu saat aku mulai mendengar kasak-kusuk itu. Kasak-kusuk yang kudengar dari percakapan nenek, bulik Endah, om Basri, dan pakdhe Bowo setiap ada pertemuan keluarga. Mereka bercakap-cakap dengan suara berbisik, mengira aku tak akan mendengar karena sedang asyik mengecat layangan. Mereka tidak tahu aku pandai berpura-pura. Aku berpura-pura tetap sibuk dengan layangan padahal aku memasang telinga dengan tajam.

Mereka berbisik menjelek-jelekkan ibu. Kata mereka, ibu wanita materialistis. Ibu meninggalkan bapak untuk menikah dengan pria bule yang kaya. Aku menangkap informasi penting dari bisik-bisik mereka. Mereka bilang ibu lari ke Amsterdam.

Aku ingin tahu tentang Amsterdam. Potongan-potongan koran, majalah, semua yang tentang Amsterdam kukumpulkan. Aku pelajari baik-baik. Suatu hari aku akan kesana untuk menemukan ibu. Aku kasihan pada ibu. Aku yakin, pasti ada yang melarang ibu untuk mengirim berita padaku. Aku tahu, ibu tak akan mengabaikanku. Biar aku saja yang akan berkorban mencari Ibu ke Amsterdam.

Bisikan-bisikan terus kudengar. Semuanya berisi cercaan. Dulu aku ikut membenci ibu seperti mereka. Lama-kelamaan, kerinduanku mengalahkan kebencianku. Aku menjadi kasihan pada ibu. Tak ada yang membelanya di sini. Aku ingin membela ibu karena aku ingat kata-kata ibu malam itu bahwa dia akan selalu menyayangiku. Aku tidak tahu cara membela ibu. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa berlari menjauh dari bisik-bisik itu.

Waktu aku masih SD, aku hanya lari ke lapangan bola di dekat rumah. Bermain sepuasnya sampai kegelapan senja merambat. Aku pulang ketika mendengar panggilan bapak. Saat SMP, aku berlari lebih jauh lagi, ke rumah teman-temanku yang lain. Aku senang berada di rumah teman-temanku. Tak ada yang membicarakan ibu di situ. Aku juga tak mendengar suara panggilan bapak di sana.

Ketika gerbang SMA menjelang, bapak membelikan sebuah sepeda motor bagiku. Katanya untuk membantuku karena jarak SMAku jauh. Aku tahu pasti, sepeda motor ini adalah bentuk penyesalan bapak. Bertepatan dengan kelulusan SMP baru aku tahu dari mulut bulik Endah bahwa bapaklah yang melarang ibu menghubungiku. Aku sudah cukup besar untuk menanyakan hal ini kepada bapak. Konsekuensi yang harus dijalani Ibu, begitu kata bapak. Menurutku larangan tersebut bukan sebuah konsekuensi, itu adalah hukuman bapak untuk ibu.

Aku sempat membenci bapak. Tidak pulang berhari-hari. Bapak menemukanku sedang melamun di terminal bus. Aku terharu saat melihat wajah sedih bapak yang memintaku pulang. Menatap wajah sedih bapak, aku tahu bahwa bapak pun telah bertahun-tahun memendam kepedihan tersendiri. Aku pulang bersama bapak. Ibaku padanya telah mengalahkan kebencianku.

Sepeda motor tersebut yang akhirnya menjadi kendaraan pelarianku setiap aku sesak dengan kerinduanku akan ibu. Adrenalin yang terpacu saat melaju kencang dengan sepeda motor di jalanan padat seakan sejenak melepaskan kesesakan dan kemarahanku yang terpendam. Geng motor? Oh tidak, aku lebih menyukai kesendirian. Melaju sendirian, menuju tempat-tempat yang sepi untuk sekedar merenung. Menatap langit, berusaha merasakan apa yang sedang dirasakan ibuku saat itu.

*****
Terang.

Cahaya terang menelusup masuk ke mataku. Melenyapkan bayangan-bayangan masa lalu yang terputar ulang di pikiranku. Sekarang aku melihat samar pada dinding putih bersih dan berbagai peralatan medis yang berada di samping tempat tidur. Sepertinya ini sebuah kamar rumah sakit.

Rekaman suatu kejadian kembali berputar cepat di kepalaku. Aku mengingat suatu siang saat arisan keluarga di tempat pakdhe Bowo. Sekali lagi aku mendengar mereka berbisik mencibir ibu. Kembali hatiku merasa sesak. Tanpa pamit, aku pergi menjauhi rumah Pakdhe Bowo. Melajukan motorku dengan kencang, berbelok tajam, sebuat truk besar, hantaman keras, dan kegelapan. Aku yakin sekarang, ini memang rumah sakit tempat aku terbaring koma berhari-hari setelah kecelakaan itu.

Cahaya itu semakin membias kuat, seakan memanggilku ke dalamnya. Tanpa takut aku menurut  masuk ke dalam cahaya. Aku merasa ada sesuatu yang begitu indah dan mulia menantiku di balik cahaya itu.
Langkahku terhenti oleh sebuah isak yang kudengar. Isak yang sangat kukenal walau telah sepuluh tahun tak lagi kudengar. Isak ibu.

Kulihat ibu menggenggam erat tanganku yang sedang terbaring di ranjang. Dalam linangan air mata, wajah ibu terlihat cantik. Parasnya masih terlihat sama dengan sepuluh tahun yang lalu. Bahkan sekarang kulitnya terlihat lebih putih dan halus. Aku mengamati setelan baju dan perhiasan ibu. Benar rupanya bisik-bisik itu, ibu telah menjadi istri orang kaya. Di samping ibu, ada bapak, terlihat lebih renta dan berduka menatap wajahku.

Mengapa baru sekarang ibu datang? Di saat aku akan pergi. Cahaya terang itu telah menantiku. Apakah Amsterdam seindah cahaya itu sehingga ibu rela meninggalkanku? Apakah bule yang dipilih ibu seterang cahaya itu sehingga ibu lebih memilih dia daripada aku? Aku merasakan gelombang rasa penyesalan dan kerinduan ibu dari setiap isak dan air matanya. Ingin kupeluk ibu dan kukatakan bahwa aku telah memaafkannya sejak dulu. Kerinduanku telah mengalahkan kebencianku.

Seperti malam itu, ibu pergi tanpa mengucapkan pamit padaku, kali ini aku pun pergi tanpa bisa mengucapkan pamit pada ibu.

“Tiiiiiiiitttt…,” nada suara yang tinggi dan datar keluar dari monitor di samping tempat tidurku. Seketika itu pula layar menunjukkan garis lurus. Isak ibu berubah menjadi raungan menyayat hati. Bapak tersungkur di sisi tempat tidur dengan bahu berguncang hebat. Aku melihat mereka berdua mengguncang-guncang ragaku yang mendingin.

Ibu, aku pamit.

Cerpen ini masuk dalam 30 Nominator peraih Piagam Penghargaan "Lomba Menulis Fiksi Dumalana 2011/2012"

Tuesday, December 6, 2011

Ending Cerita Favorit Pembaca Wanita



Penolakan! Itu yang kuterima saat pertama kali memberanikan diri mengirim cerpen ke sebuah majalah wanita. Tapi sebuah penolakan yang ramah karena redaktur memberikan penjelasan kenapa naskahku belum bisa dimuat.
Alasan pertama karena naskahku terlalu pendek. Alasan kedua karena naskahku sad ending. Padahal redaktur berpendapat sebenarnya tema ceritaku cukup menarik (menghibur kali yeeee….). Menurut redaktur, kebanyakan wanita menyukai cerita yang happy ending.
Saya sih manggut-manggut saja mendengar wejangan manis redaktur. Tentunya dia telah berpengalaman menganalisa sifat pembaca majalahnya. Saya menjadi mengingat kembali beberapa fiksi yang pernah saya posting di www.kompasiana.com. Ada kalanya saya membuat fiksi romantis dengan happy ending yang begitu menyentuh. Tapi kadang saya juga membuat fiksi dengan sad ending. Respon pembaca wanita memang sangat berbeda.
Pembaca wanita biasanya menjadi sumringah dengan akhir cerita yang berbahagia. Seakan mereka dibawa melambung ke awan kebahagiaan bersama tokoh cerita. Cerita yang berakhir sedih memang sebenarnya tidak memunculkan kritik. Hanya membawa pembaca wanita untuk jadi mellow. Tapi, siapa sih yang suka mengisi hari dengan kesedihan? Apalagi sedih memikirkan suatu cerita fiksi, capek kali ya….
Saya juga jadi teringat seorang teman kantor saya yang kecanduan film dan serial drama Korea. Bahkan jauh sebelum demam K-Pop melanda Indonesia. Dia selalu rajin memburu film dan serial Korea keluaran terbaru. Dia sendiri sudah memiliki toko langganan yang menjadi distributornya. Lucunya, setiap akan membeli suatu serial atau film dia akan bertanya dulu pada penjualnya, “Mbak, ini akhirnya menyedihkan atau bahagia?” Nah, kalau si penjual bilang akhir ceritanya menyedihkan maka dia batal membeli, hehehe…..
Wanita adalah makhluk yang begitu dikuasai perasaan. Mudah terhanyut setelah melihat atau mendengar sesuatu. Lihat sesuatu yang sedih jadi nangis bombay, lihat sesuatu yang lucu bisa cekikikan sendiri sampai dikira kuntilanak nongol di siang bolong, lihat sesuatu yang bikin sebel bisa jambak-jambak rambut sendiri (nggak lah, pasti takut rontok), lihat sesuatu yang romantis bisa melambungkan khayal ke awan-awan berharap djemput pangeran yang naik delman, eh… kuda putih.
Jadi, membuat cerita untuk pembaca wanita sebaiknya cerita menyentuh emosi. Juga, perlu dipertimbangkan untuk membuat cerita dengan happy ending. Dan, menurut pengamatan saya, wanita tidak menyukai akhir kisah yang menggantung. Mereka tidak mau lagi susah-susah memikirkan sendiri bagaimana akhir cerita nanti. Jadi, akhiri kisah dengan manis, taburkan bunga-bunga kebahagiaan di hati pembaca wanita saat membaca huruf terakhir cerita kita. Tentu saja, dengan alur yang menarik dan tidak mudah ditebak.
Bagaimana dengan pria? Pria adalah makhluk yang dikuasai oleh logika. Jadi, menurut pendapat saya, mereka akan menyukai cerita yang menantang untuk berpikir. Sejenis thriller begitu. Akhir yang menggantung tidak menjadi masalah besar bagi mereka. Menantang lagi bagi mereka untuk berpikir.
Saya sendiri dulunya sering membuat cerita sad ending atau akhir yang menggantung. Bila menulis untuk kepuasan batin saya, maka tentu ini tidak pernah mengganggu saya. Tapi bila membuat suatu tulisan untuk dkirim ke suatu media dengan pembaca wanita maka saya akan berpikir keras bagaimana menutup cerita dengan happy ending, menyentuh, dan membawa pesan moral kuat.

Monday, December 5, 2011

Lembaran Baru


Maaf bila megecewakan Anda. Tapi ini bukan blog baru. Ini barang second, rekondisi, daur ulang, atau apalah namanya. Saya memang telah memiliki akun blog ini sejak tahun 2007. Sempat terbengkalai dan tidak aktif selama beberapa tahun maka saya memutuskan merombak total blog saya. Mengawali sesuatu yang baru setelah kekacauan yang terjadi di hidup saya. Termasuk kekacauan dalam blog lama saya.
Jadi, kenapa Nita bicara tentang wanita? Mudah saja, karena saya wanita. Saya (merasa) paling mengerti diri saya dan wanita-wanita di sekeliling saya. Banyak sekali yang dapat dibicarakan tentang wanita. Wanita itu gabungan antara keindahan dan kerumitan. Coba tanya para pria, apa yang paling indah di mata mereka? Apa pula yang paling rumit untuk mereka pahami?
Jangan kuatir. Tidak ada pembicaraan serius di blog ini. Tidak ada psikologi analisa klinis yang njlimet untuk membahas tentang wanita. Hanya cerita dan obrolan ringan. Sesuatu yang dapat Anda bicarakan sambil memasak, menjaga anak, atau sambil ngemil. Enjoy it!
Bagi para pria, jangan sungkan untuk menelusuri blog ini. Anda tak perlu gengsi walau blog ini tampak girly banget. Saya tahu, Anda begitu penasaran untuk mengintip isi hati wanita. Jadi, selamat mengintip. Anda saya sambut dengan hangat.